Wakil Bupati Grobogan H. Icek Baskoro, SH berharap petani mengubah pola tanam petani di wilayahnya. Tujuannya untuk untuk memutus total siklus hama wereng yang tidak juga punah.

”Saatnya petani mengubah pola tanam dan kalau bisa dilakukan serentak. Dan ini harus dilakukan menyeluruh di semua daerah ini. Sebab jika satu daerah saja masih ada yang menanam padi siklus wereng tidak akan bisa diputus,” kata Wabup saat disinggung mengenai serangan hama wereng batang coklat (WBC) di Grobogan.

Menurutnya para petani sengaja diwajibkan untuk tidak menanam padi sementara waktu demi memutus mata rantai wereng. Dengan demikian pada bulan selanjutnya petani hanya diperbolehkan menanam sejenis tanaman palawija. Palawija yang ditanam sendiri bisa sejenis jagung, singkong serta kacang.

Dijelaskan, serangan hama wereng mengganggu produksi pertanian terutama padi. Wereng itu menyerang batang-batang padi terutama di lahan pertanian irigasi. Di Grobogan sendiri serangan wereng tidak begitu merata. Adapun wilayah yang terindikasi terserang yakni di Kecamatan Grobogan dan Klambu.

Beberapa saat yang lalu WBC kembali menghantam Grobogan. Akibatnya sekitar 500 hektar tanaman padi di sejumlah desa daerah itu rusak. Beberapa hektar diantaranya gagal panen. Akibatnya, tak tanggung-tanggung kerugian yang dialami petani mencapai jutaan rupiah.

”Saya memiliki sawah seluas setengah hektar yang ludes dimakan wereng. Akibatnya saya mengalami kerugian Rp 5 juta lebih,” kata Saeroni, 50, warga Getasrejo, Grobogan.

Sementara para petani di Desa Pengantin Kecamatan Klambu dengan terpaksa membabat tanaman untuk makanan ternak karena hancur diserang hama penggerek batang. Suwarji, 57, petani setempat mengungkapkan di desanya ada sekitar 200 hektar tanaman padi berumur dua bulan gagal panen. Sebanyak 10 hektar diantaranya puso.

”Hampir seluruh tanaman padi kering berwarna kemerahan. Kami terpaksa membabat tanaman untuk makanan sapi,” ungkapnya.

Pihaknya mengaku sudah menyemprot beberapa kali dengan pestisida. Namun tidak membuahkan hasil. Jika tidak ada hama , ia memperkirakan bisa panen dengan hasil kotor sekitar Rp 11 juta hingga Rp 16 juta per patok.

Hal sama dialami petani di Desa Ngraji, Kecamatan Purwodadi. Sekitar 300 hektar tanaman padi yang ada terserang wereng. Suwardi, 47, petani setempat mengaku tanaman padi miliknya seluas 0,25 hektar gagal panen.

”Saya sampai menyemprot pestisida sebelas kali. Karena sudah kehilangan akal, penyemprotan kami campur dengan sabun detergen, agar pestisida bisa melekat di batang dan daun padi. Namun wereng seakan tidak ada habisnya. Karena tetap gagal, tanaman terpaksa saya babat untuk pakan ternak,” ungkapnya.

Wabup melanjutkan, bahwa perubahan pola tanam dapat menjadi solusi saat ini.

”Pola tanam para petani harus diubah. Di antaranya menyelingi tanaman padi dengan tanaman lain seperti jagung, kacang tanah ataupun singkong,” pungkas Wabup.