Di meja kerjanya dipenuhi tumpukan buku dan kertas penting, sebagai pertanda banyak pekerjaan yang diembannya untuk diselesaikan, meski tergolong sibuknya, Kasubbid Kesra BAPPEDA Kabupaten Grobogan Arief Orbandi, SH, pagi itu masih menyempatkan waktu menerima tamu dari Gema Bersemi yang ingin mewawancarainya seputar kegiatan program STBM di Kabupaten Grobogan, baik itu hal yang menyangkut kendala di lapangan maupun harapan kedepan terhadap program ini selanjutnya.

Dengan suasana familier Arief menceritakan kisah sukses kegiatan STBM di 2 desa yaitu Desa Panimbo Kecamatan Kedungjati dan Desa Gunungtumpeng Kecamatan Karangrayung beberapa waktu lalu dan kini kegiatan STBM itu ditindaklanjuti di 10 Kecamatan yang dilakukan oleh Plan program unit Grobogan bersama Pemkab Grobogan, dimana saat ini program itu tengah berjalan pada tahapan pemicuan di masyarakat, terangnya dengan perasaan senang menerima Gema Bersemi.

Kata Arief, bahwa program ini sangat baik, karena kegiatan STBM itu salah satunya akan mengurai permasalahan secara detail mengenai keadaan sanitasi dan kesehatan lingkungan di masyarakat serta mencari solusi dengan pola pemberdayaan masyarakat, yang tujuan akhirnya supaya masyarakat dalam kehidupan sehari-hari ada suatu perubahan perilaku hygeines, artinya mereka secara sadar kemudian terpicu untuk melakukan kebiasaan hidup bersih sehat dengan tidak BAB sembarangan dan membuat/memiliki jamban sederhana/WC, termasuk menerapkan empat pilar yang lain dari STBM, tandasnya.

Terhadap kegiatan STBM yang dilakukan oleh Plan, peran Bappeda hanya membantu memfasilitasi program ini agar terlaksana dengan baik, namun tidak sebatas itu, pihaknya juga melakukan koordinasi, konsolidasi dan monev, termasuk berupaya mengetahui kendala-kendala apa yang ada dilapangan, kata Arief yang juga sebagai tim AMPL Kabupaten Grobogan.

Kepada Gema Bersemi Arief mengatakan, sebenarnya ada beberapa kendala yang hadapi pada program STBM ini yaitu : pejabat struktural hingga sampai di tingkat desa menganggap bahwa program ini dianggapnya sesuatu yang biasa, pada hal sebenarnya program ini sangat penting. Kedua terkait faktor lingkungan, terutama warga masyarakat yang tinggal disekitar lingkungan sungai, mereka sangat sulit untuk diajak agar tidak BAB disitu, hal ini tidak hanya terjadi di Grobogan saja namun di kabupaten lainpun permasalahan tidak jauh berbeda. Sedangkan yang ketiga, uniknya, masyarakat di Grobogan umumnya sudah pada tahu bahwa “kalau musim hujan tidak bisa jongkok bila musim kemarau tidak bisa cebok” ini artinya bahwa daerah di Grobogan apabila musim hujan terkena banjir dan di daerah pinggiran hutan bila musim kemarau kesulitan air, sehingga akhirnya masyarakat memilih alternatif sendiri dengan menyesuaikan kondisi alam dan ini salah satu yang dijadikan alasan mereka.  

Sedangkan harapan terhadap program ini menurut Arief, harapannya program STBM ini tetap berjalan dengan STBM dapat berjalan maka persoalan BABS lambat-laun dapat diatasi. Memfokuskan pada pilar pertama dan perubahan perilaku masyarakat sehingga setelah sadar mereka akan membuat jamban secara swadaya. Tidak hanya pemerintah yang aktif tetapi masyarakat yang tempatnya mendapat program ini untuk lebih aktif lagi dan yang terakhir kata Arief yaitu menanamkan kesadaran bahwa BAB itu adalah kebutuhan individu jadi merekalah mestinya memikirkannya. (ARF*)